Prof. Intan Ahmad, Ph.D: Pendidikan Berkualitas Mendorong Bangsa Sejahtera


Masalah pendidikan di Indonesia memang masih perlu upaya lebih hebat untuk mengurainya. Pemerintah pun tanpa henti melakukan berbagai terobosan kebijakan. Mulai jenjang pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi.

“Upaya meningkatan kualitas pendidikan selalu berdampak pada tingkat kesejahteraan suatu bangsa. Ini sesuatu yang tak terbantahkan,” tegas Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek Dikti, Prof. Intan Ahmad, Ph.D saat memberikan materi pada Kuliah Umum bertema Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia, ASEAN dan Dunia di kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, Kamis (16/3/17).

Menurutnya korelasi pendidikan berkualitas dengan kesejahteraan bangsa dapat terlihat pada sejumlah data statistik pendidikan. Pada negara maju tingkat perguruan tingginya sangat menonjol. Mulai dari jumlah publikasi ilmiah yang sangat banyak sampai pada jumlah mahasiswanya juga berlimpah.

“Mari kita lihat Cina, jumlah mahasiswanya sangat besar mencapai 38 juta orang. Sedangkan Indonesia hanya 5 juta orang,” tegasnya.

Sedangkan institusi perguruan tingginya, lanjut dia juga memiliki standar tinggi. Bahkan tak sedikit yang sudah mengantongi standar internasional. Sedangkna di Indonesia jumlah perguruan tinggi yang belum terakreditasi saja mencapai 3.363 lembaga. Hanya 1.126 perguruan tinggi terakreditasi.

Menariknya lagi, sambung dia jumlah perguruan tinggi terakreditasi itu hanya 50 lembaga terakreditasi unggulan atau A. Selebihnya 344 lembaga berada pada kategori akreditasi B dan 732 lembaga terakreditasi C.

“Kenyataan ini tentu berbanding terbalik dengan perguruan tinggi di luar negeri. Jadi memang perlu usaha keras dari semua pihak untuk mendorong perguruan tinggi di Indonesia naik kualitasnya,” ucap dihadapan mahasiswa program Doktor Ekonomi UMB.

Paling tidak, kata dia pemerintah mendorong akreditasi perguruan tinggi bisa meningkat bertahap. Ditargetkan tidak ada lagi perguruan tinggi terakreditasi C pada masa mendatang. Makanya yang telah terakreditasi B harus didorong menjadi lembaga terakreditasi A.

Lebih lanjut, Prof. Intan Ahmad mencatat kesejahteraan bangsa juga punya korelasi pada publikasi ilmiah. Pada negara maju publikasi ilmiah bukan hanya jumlahnya banyak, tetapi juga telah menjadi tradisi kalangan akademisi.

“Di Indonesia ini menilai publikasi ilmiah sebagai beban. Hal tersebut saya nilai tidaklah tepat. Publikasi harus diorientasikan sebagai opportunity,” ungkapnya.

Menariknya lagi, sambung dia beberapa negara menjadikan publikasi ilmiah setingkat lebih maju. Yakni menjadikan publikasi ilmiah yang berimplikasi pada roda ekonomi. Hal itu disebut beyond publication.

Rektor UMB, Dr. Arissetyanto Nugroho menambahkan tradisi riset pada perguruan tinggi memang perlu terus didorong. SEbagai bagian dari tradisi akademis yang tak boleh dipisahkan dari pribadi kalangan terdidik.

Selain itu, menurut dia peningkatan skill mahasiswa juga perlu dilakukan. Misalkan kemampuan berbahasa Inggris dan meningkatkan praktik lainnya. Sehingga memiliki daya saing setelah selesai kuliah.

Silahkan Bertanya
ANDA JUGA BISA BERTANYA DI SINI

Nama Lengkap *
No HP *
Email *
Domisili *
Pertanyaan